13 Jenis dalam Pengelompokan Mad Far'i, Kunci Tilawah Merdu Sesuai Tajwid

Setiap lantunan ayat suci Al-Qur’an memiliki keindahan dan keagungan yang menenangkan jiwa. Keindahan ini tidak hanya terletak pada maknanya, tetapi juga pada cara membacanya dengan tartil dan benar. Di sinilah ilmu tajwid memegang peranan vital sebagai pedoman untuk memelihara lisan dari kesalahan saat membaca Kalamullah. Salah satu pilar terpenting dalam ilmu tajwid adalah hukum bacaan Mad. Secara umum, hukum Mad terbagi dua, yakni Mad Thabi’i (asli) dan Mad Far’i (cabang). Untuk mencapai kesempurnaan tilawah, mari kita selami lebih dalam mengenai pengelompokan mad far’i yang menjadi cabang dari hukum mad.

Secara definitif, mad far’i adalah hukum bacaan panjang yang terjadi karena adanya sebab-sebab tertentu, yaitu ketika huruf mad bertemu dengan hamzah (ء) atau sukun (ه). Berbeda dengan Mad Thabi’i yang dibaca sepanjang dua harakat, panjang bacaan mad far’i bisa lebih dari itu, mulai dari empat hingga enam harakat, tergantung jenisnya. Menguasai hukum ini akan membuat bacaan kita lebih fasih dan sesuai dengan kaidah yang diajarkan.

Pengelompokan Mad Far’i Berdasarkan Penyebabnya

Para ulama tajwid membagi mad far’i ke dalam dua kelompok besar berdasarkan penyebab yang memengaruhinya. Pemahaman atas dua kategori ini menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi 13 hingga 15 jenis mad far’i yang ada.

1. Mad Far’i yang Disebabkan oleh Hamzah (ء)

Kelompok pertama terjadi ketika huruf Mad Thabi’i bertemu dengan huruf hamzah. Pertemuan ini menghasilkan empat jenis hukum turunan, yaitu:

  • Mad Wajib Muttashil: Terjadi saat Mad Thabi’i bertemu hamzah dalam satu kata (muttashil artinya bersambung). Hukum ini wajib dibaca panjang 4-5 harakat.

  • Mad Jaiz Munfashil: Terjadi ketika Mad Thabi’i bertemu hamzah di dua kata yang terpisah (munfashil artinya terpisah). Hukum ini boleh dibaca panjang 2, 4, atau 5 harakat.

    • Contoh: بِمَا أُنْزِلَ (QS. Al-Baqarah: 4)

  • Mad Shilah Thawilah: Ini adalah hukum khusus untuk ha dhamir (kata ganti ‘nya’) yang bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang 4-5 harakat.

    • Contoh: عِنْدَهُ إِلَّا (QS. Al-Baqarah: 255)

  • Mad Badal: Terjadi ketika huruf hamzah bertemu dengan huruf mad, yang sejatinya merupakan pengganti (badal) dari hamzah sukun. Hukum ini dibaca panjang 2 harakat.

    • Contoh: آدَمَ (asalnya أَأْدَمَ), إِيْمَانٌ (asalnya إِئْمَانٌ)

2. Mad Far’i yang Disebabkan oleh Sukun (ه)

Kelompok kedua terjadi ketika huruf Mad Thabi’i bertemu dengan huruf yang berharakat sukun atau huruf yang disukunkan karena waqaf (berhenti). Jenisnya lebih beragam, di antaranya:

  • Mad ‘Aridh Lissukun: Terjadi saat Mad Thabi’i berada sebelum huruf yang diwaqafkan (dihentikan). Panjangnya boleh 2, 4, atau 6 harakat.

    • Contoh: تَعْلَمُوْنَ (saat waqaf pada akhir kata).

  • Mad Iwadh: Terjadi saat berhenti (waqaf) pada huruf yang berharakat Fathatain (-ً), kecuali pada Ta Marbuthah (ة). Bacaan tanwin dihilangkan dan dibaca panjang 2 harakat.

    • Contoh: عَلِيْمًا (dibaca ‘aliimaa’ saat waqaf).

  • Mad Layyin: Terjadi saat huruf berharakat fathah bertemu Wau sukun (وْ) atau Ya sukun (يْ), lalu bertemu lagi dengan huruf hidup yang diwaqafkan. Dibaca lunak dengan panjang 2, 4, atau 6 harakat.

    • Contoh: خَوْفٌ (saat waqaf pada kata ‘khauf’).

  • Mad Tamkin: Terjadi jika ada dua huruf Ya (ي) bertemu dalam satu kata, di mana Ya pertama bertasydid dan kasrah, sedangkan Ya kedua sukun. Dibaca dengan panjang 2 harakat.

    • Contoh: حُيِّيْتُمْ (QS. An-Nisa: 86)

  • Mad Farq: Ini adalah hukum untuk membedakan (farq) antara kalimat tanya dengan kalimat berita. Dibaca panjang 6 harakat.

    • Contoh: قُلْ آلذَّكَرَيْنِ (QS. Al-An’am: 143)

  • Mad Lazim: Ini adalah hukum mad yang paling panjang (6 harakat) dan terbagi lagi menjadi empat jenis:

    1. Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi: Mad Thabi’i bertemu tasydid ( ّ ) dalam satu kata. Contoh: وَلاَ الضَّالِّيْنَ

    2. Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi: Mad Thabi’i bertemu sukun asli dalam satu kata. Contoh: آلْآنَ (hanya ada di QS. Yunus: 51 & 91).

    3. Mad Lazim Mutsaqqal Harfi: Terjadi pada huruf Fawatihus Suwar (pembuka surah) yang saat dieja terdiri dari 3 huruf dan diakhiri dengan idgham. Contoh: الٓمّ (Alif Laaam Miiim).

    4. Mad Lazim Mukhaffaf Harfi: Terjadi pada huruf Fawatihus Suwar yang saat dieja terdiri dari 3 huruf dengan sukun di tengahnya tanpa idgham. Contoh: نٓ (Nuuun).

Urgensi Menguasai Pengelompokan Mad Far’i

Mempelajari dan mempraktikkan pengelompokan mad far’i bukan sekadar teori. Ini adalah bentuk ikhtiar kita untuk memuliakan Al-Qur’an. Pemahaman yang benar akan hukum mad far’i membantu seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) untuk:

  • Menjaga Keaslian Bacaan: Membaca Al-Qur’an sesuai dengan riwayat yang sampai kepada kita dari Rasulullah SAW.

  • Menghindari Perubahan Makna: Kesalahan dalam memanjangkan atau memendekkan bacaan berpotensi mengubah makna ayat secara signifikan.

  • Menambah Kekhusyukan: Bacaan yang tartil dan indah akan lebih meresap ke dalam hati, baik bagi yang membaca maupun yang mendengarkan.

BACA JUGA: Membedah Fungsi Hadis terhadap Al-Qur’an, Kunci Mengamalkan Islam Secara Menyeluruh

Wujudkan Generasi Qur’ani Bersanad Bersama Yayasan Syekh Ali Jaber

Memahami seluk-beluk ilmu tajwid seperti pengelompokan mad far’i membutuhkan bimbingan dari guru yang kompeten dan memiliki sanad keilmuan yang jelas. Yayasan Syekh Ali Jaber, sebagai lembaga yang meneruskan dakwah dan kecintaan Syekh Ali Jaber terhadap Al-Qur’an, berkomitmen untuk melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang mutqin.

Kami mengajak para orang tua untuk mendaftarkan putra-putrinya ke Pesantren Tahfidz Qur’an (PTQ) Syekh Ali Jaber. Di sini, ananda tidak hanya akan belajar, tetapi hidup bersama Al-Qur’an melalui program-program unggulan kami:

1. Kurikulum Menghafal Al-Qur’an Dalam Setahun

Program intensif yang dirancang untuk membantu santri menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu yang terukur.

2. Metode Otak

Hafalan Syarah Matan Tajwid: Pembelajaran tajwid yang mendalam dan mudah dipahami, langsung dari matan-matan (kitab inti) para ulama.

3. Ijazah Al-Qur’an Bersanad ke Rasulullah SAW 

Sebuah kehormatan besar bagi penghafal Al-Qur’an, karena sanad ini menyambungkan bacaan mereka kepada guru-guru terpercaya hingga sampai kepada Rasulullah SAW.

4. Kesempatan Pengambilan Sanad di Madinah

Santri berprestasi akan mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengambil sanad langsung di kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah.

Jadikan putra Anda bagian dari para penjaga Kalamullah. Daftarkan segera dan berikan ia kesempatan menjadi seorang hafiz Al-Qur’an yang ilmunya bermanfaat bagi umat, dengan sanad yang mulia.

Hubungi Kami

Hubungi kami di : 082260707044

Kirim email ke kamimahirdenganalquranalijaber01@gmail.com