Pentingnya Niat dalam Menghafal Al-Qur’an
Syekh Muhammad Jaber menjelaskan sebuah riwayat yang mengerikan tentang orang-orang yang berilmu, orang munafik, dan mujahid, termasuk tiga penghafal Al-Qur’an, yang justru dilemparkan ke api neraka. Ketika ditanya oleh Allah mengapa mereka menghafal Al-Qur’an dan menghabiskan waktu untuk itu, mereka menjawab “hanya untuk-Mu ya Allah”. Namun, Allah akan berkata, “Kamu bohong, kamu berdusta”.
Tujuan mereka menghafal Al-Qur’an hanyalah agar dipanggil “Al-Qari” atau “Al-Hafiz fulan ibnu fulan”. Niat mereka bukan lillahi taala (hanya karena Allah). Nauzubillah, meskipun di dunia terkenal sebagai hafiz atau qari, mereka ditarik ke api neraka di akhirat karena niatnya yang tidak murni. Oleh karena itu, Syekh Muhammad Jaber menyerukan agar setiap hari kita berusaha meluruskan niat. Kita harus senantiasa menghadirkan niat “lillahi taala” dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Niat yang Membawa Berkah
Mulia di Sisi Allah, Bukan Manusia
Tujuan utama kita menghafal Al-Qur’an seharusnya adalah agar kita menjadi mulia di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Kemuliaan sejati adalah yang datang dari Sang Pencipta, bukan dari pujian fana duniawi.
Membahagiakan Orang Tua
Selain mencari rida Allah, niat untuk membahagiakan orang tua juga merupakan niat yang mulia dan diperbolehkan. Banyak orang tua yang berjuang di luar sana, berkorban, demi memastikan anak-anak mereka dapat fokus menghafal Al-Qur’an. Syekh Muhammad Jaber menyampaikan bahwa itu adalah “luar biasa, bukan setiap orang tua seperti itu”. Beliau menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah atas karunia memiliki orang tua yang mendukung anak-anak mereka menjadi penghafal Al-Qur’an.
Singkatnya, motivasi Syekh Muhammad Jaber Kepada Santri Penghafal Al-Qur’an adalah pengingat penting bahwa niat adalah fondasi dari setiap ibadah, termasuk menghafal Al-Qur’an. Dengan niat yang lurus dan tulus karena Allah, serta untuk membahagiakan orang tua, insya Allah, kita akan meraih keberkahan dan kemuliaan di dunia dan akhirat.






