
Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Namun, tidak semua ayat memiliki makna yang langsung bisa dipahami. Ada ayat yang jelas maknanya (muhkam) dan ada pula yang samar atau multitafsir (mutasyabih). Oleh karena itu, diperlukan langkah yang tepat memahami ayat mutasyabih agar seorang muslim tidak salah menafsirkan. Kesalahan memahami ayat bisa menimbulkan perpecahan, bahkan penyimpangan akidah.
Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu ayat mutasyabih, bagaimana cara ulama menafsirkannya, serta langkah-langkah praktis yang bisa kita terapkan.
Apa Itu Ayat Mutasyabih?
Secara bahasa, mutasyabih berarti mirip atau samar. Sedangkan menurut istilah ilmu tafsir, ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya tidak bisa dipahami hanya dengan bacaan lahiriah, melainkan membutuhkan penjelasan tambahan.
Contoh ayat mutasyabih terdapat dalam firman Allah:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَاۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.” (QS. Ali Imran: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa mutasyabih adalah bagian dari Al-Qur’an yang keberadaannya menguji hati manusia, apakah condong kepada kebenaran atau justru mengikuti hawa nafsu.
Langkah yang Tepat Memahami Ayat Mutasyabih
Untuk memahami ayat mutasyabih, ulama telah memberikan panduan yang bisa kita ikuti.
1. Menafsirkan dengan Ayat Muhkam
Ayat muhkamat adalah dasar penjelasan Al-Qur’an. Jika menemukan ayat mutasyabih, maka rujukannya adalah ayat muhkamat yang lebih jelas.
2. Memahami dengan Tafsir Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)
Hadis ini menunjukkan pentingnya menafsirkan ayat mutasyabih sesuai dengan penjelasan Rasulullah ﷺ.
3. Mengikuti Penjelasan Sahabat dan Ulama Salaf
Para sahabat memiliki kedekatan langsung dengan wahyu. Mereka lebih mengetahui konteks turunnya ayat. Oleh karena itu, memahami mutasyabih harus mengikuti penjelasan mereka, bukan tafsir yang lahir dari akal semata.
4. Tidak Memaksakan Tafsir di Luar Kemampuan
Jika makna ayat mutasyabih masih sulit dipahami, seorang muslim dianjurkan untuk mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa menafsirkan berlebihan. Inilah sikap tawaduk dalam beragama.
BACA JUGA: Apa Itu Tahsin dan Tahfidz? Panduan Lengkap Memahami Ilmu dan Maknanya
Prinsip Ulama dalam Menyikapi Ayat Mutasyabih
Para ulama berbeda pandangan, tetapi sepakat bahwa mutasyabih tidak boleh ditafsirkan sembarangan. Ada yang menekankan makna simbolis, ada pula yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah (tafwidh).
Keduanya tetap menegaskan bahwa langkah yang tepat memahami ayat mutasyabih adalah dengan ilmu, bukan spekulasi. Sikap ini menjaga kemurnian akidah dan menghindarkan umat dari fitnah.
Pentingnya Ilmu Tafsir bagi Umat Islam
Memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahan. Perlu ada bimbingan ilmu tafsir agar tidak salah kaprah. Terlebih pada ayat-ayat mutasyabih yang rentan disalahgunakan oleh kelompok tertentu.
Oleh karena itu, setiap muslim perlu menuntut ilmu, menghadiri kajian, dan mendukung pendidikan Al-Qur’an sejak dini.
Langkah yang tepat memahami ayat mutasyabih bukan hanya soal teori tafsir. Esensinya adalah menguatkan iman dan amal. Seorang muslim yang benar memahami Al-Qur’an akan lebih berhati-hati dalam berucap, lebih bijak mengambil keputusan, serta lebih ikhlas dalam beribadah.
Dengan demikian, pemahaman terhadap ayat mutasyabih harus melahirkan ketenangan hati, bukan pertikaian.
Solusi Mendidik Anak Menjadi Penghafal Al-Qur’an
Salah satu cara terbaik agar generasi muslim mampu memahami Al-Qur’an dengan baik adalah membekali mereka sejak dini dengan hafalan dan bimbingan yang benar. Pesantren Tahfidz Qur’an (PTQ) Syekh Ali Jaber hadir memberikan solusi tersebut.
PTQ Syekh Ali Jaber memiliki berbagai keunggulan, di antaranya:
Kurikulum Menghafal Al-Qur’an Dalam Setahun – Program intensif yang memungkinkan santri khatam 30 juz dengan bimbingan terstruktur.
Metode Otak – Strategi hafalan berbasis teknik memori modern yang memudahkan santri mengingat ayat dengan kuat.
Hafalan Syarah Matan Tajwid – Santri tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami kaidah tajwid dengan matan klasik.
Ijazah Al-Qur’an Bersanad ke Rasulullah SAW – Santri berkesempatan mendapatkan ijazah resmi yang menyambungkan sanad bacaan Al-Qur’an hingga Rasulullah ﷺ.
Kesempatan Pengambilan Sanad di Madinah – Keistimewaan langka yang membuka peluang santri memperdalam ilmu langsung di kota suci.
Dengan keunggulan tersebut, PTQ Syekh Ali Jaber menjadi tempat ideal bagi orang tua yang ingin anaknya tumbuh sebagai hafidz/hafidzah berilmu, berakhlak, dan berprestasi.
Memahami ayat mutasyabih membutuhkan langkah yang tepat: menafsirkan dengan ayat muhkamat, mengikuti tafsir Rasulullah ﷺ, mendengarkan penjelasan ulama salaf, dan bersikap tawaduk. Tanpa langkah itu, pemahaman bisa melenceng dari kebenaran.
Selain memahami, kita juga berkewajiban mendidik generasi agar dekat dengan Al-Qur’an. Salah satu caranya adalah dengan mendaftarkan anak ke Pesantren Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber, yang telah terbukti melahirkan penghafal Al-Qur’an berkualitas.
Mari jadikan anak-anak kita generasi Qur’ani, agar kelak mereka mampu menjaga kemurnian agama sekaligus menjadi penerang di tengah masyarakat.






