
Hadis Nabi Muhammad SAW bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cahaya penjelas yang menerangi makna Al-Qur’an agar dapat kita amalkan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hadis, banyak perintah dalam Al-Qur’an yang akan sulit kita pahami secara utuh dan tepat.
Mengapa Hadis Tidak Bisa Dipisahkan dari Al-Qur’an
Hubungan antara hadis dan Al-Qur’an bukan hubungan yang setara atau bersaing. Keduanya saling melengkapi. Al-Qur’an adalah sumber hukum utama, sedangkan hadis hadir sebagai penjelas, penguat, dan pelengkap.
Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dan penjelas wahyu-Nya. Hal ini tertuang dalam firman-Nya:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)
Ayat ini adalah landasan utama mengapa hadis memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Rasulullah SAW bukan hanya menyampaikan Al-Qur’an, beliau juga menjelaskan, mempraktikkan, dan merinci maknanya.
Empat Fungsi Utama Hadis terhadap Al-Qur’an
1. Bayan At-Taqrir (Penguat dan Penegasan)
Fungsi pertama adalah memperkuat hukum yang sudah ada dalam Al-Qur’an. Hadis hadir untuk menegaskan kembali apa yang telah Allah tetapkan.
Contohnya, Al-Qur’an mewajibkan shalat. Lalu Rasulullah SAW bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, dari sahabat Malik bin Al-Huwairits RA)
Hadis ini tidak menambah kewajiban baru. Ia memperkuat perintah shalat sekaligus memberikan panduan tata caranya.
2. Bayan At-Tafsir (Penjelas Makna)
Banyak ayat Al-Qur’an yang bersifat umum atau memerlukan penjelasan lebih rinci. Di sinilah hadis berperan sebagai tafsir hidup.
Allah memerintahkan kita mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam banyak ayat. Namun Al-Qur’an tidak merinci jumlah rakaat, waktu, nisab zakat, atau tata caranya. Hadis Rasulullah SAW-lah yang mengisi semua kekosongan itu.
Begitu pula dengan firman Allah:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.” (QS. Al-Maidah: 38)
Hadis kemudian menjelaskan bahwa pemotongan tangan berlaku pada pencurian yang mencapai nisab tertentu, dilakukan dari tempat penyimpanan yang sesuai, bukan pencurian karena terpaksa kelaparan.
3. Bayan At-Takhsis (Pengkhususan Hukum Umum)
Al-Qur’an sering menyebutkan hukum secara umum. Hadis berfungsi mengkhususkan atau memberi batasan pada kemumuman itu.
Contoh sederhana: Al-Qur’an menyebut bahwa Allah mengharamkan bangkai. Hadis kemudian mengecualikan dua jenis bangkai yang halal dimakan, yaitu ikan dan belalang, berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad dari sahabat Ibnu Umar RA.
4. Bayan At-Tasyri’ (Penetapan Hukum Baru)
Inilah fungsi hadis yang paling menonjol kemandiriannya. Hadis dapat menetapkan hukum yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun tetap dalam kerangka dan ruh wahyu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap yang bertaring dari binatang buas maka haram dimakan.” (HR. Muslim, dari sahabat Abu Hurairah RA)
Larangan memakan binatang buas bertaring ini tidak disebutkan secara eksplisit di Al-Qur’an. Namun karena hadis ini sahih dan datang dari Nabi yang diutus Allah, ia menjadi hukum yang mengikat bagi seluruh umat Islam.
BACA JUGA: Mengapa Allah Menyebut Anak Yatim dalam Al-Qur’an? Ternyata Ada Alasan Dibaliknya
Mengajarkan Anak Mencintai Al-Qur’an dan Hadis sejak Dini
Memahami kedudukan hadis bukan hanya urusan para ulama. Ini adalah bekal yang perlu ditanamkan kepada generasi muda sejak dini, agar mereka tidak hanya hafal Al-Qur’an tapi juga memahaminya dengan benar.
Di Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Syekh Ali Jaber, para santri tidak hanya dilatih menghafal ayat demi ayat. Mereka juga dibimbing memahami keterkaitan antara Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, sehingga hafalan mereka hidup dalam pemahaman dan pengamalan yang benar.
Jika Anda memiliki anak, keponakan, atau keluarga yang ingin tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang paham ilmu, inilah kesempatan untuk mengambil bagian. Mendukung program tahfidz adalah bentuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir — karena setiap ayat yang dihafal dan diamalkan oleh para santri, Anda turut andil di dalamnya.
Kedudukan Hadis dalam Pandangan Para Ulama
Para ulama sepanjang zaman telah bersepakat bahwa mengingkari hadis shahih sama dengan menolak sebagian ajaran Islam. Imam Syafi’i rahimahullah berkata bahwa siapa pun yang mengikuti Al-Qur’an, ia pasti akan mengikuti sunnah, karena Al-Qur’an sendirilah yang memerintahkan ketaatan kepada Rasulullah.
Ini bukan sekadar argumen akademis. Ini adalah kenyataan hidup yang kita rasakan setiap hari. Bagaimana kita tahu tata cara wudhu yang benar? Hadis. Bagaimana kita tahu bacaan dalam shalat? Hadis. Bagaimana kita tahu kapan berpuasa dimulai dan diakhiri? Hadis.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Fungsi Hadis
1. Apakah hadis bisa bertentangan dengan Al-Qur’an?
Hadis yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an secara hakiki. Jika tampak bertentangan, itu biasanya karena cara memahami salah satu atau keduanya yang kurang tepat. Para ulama memiliki ilmu nasakh (penghapusan hukum) dan tarjih (pemilihan dalil terkuat) untuk menyelesaikan persoalan seperti ini.
2. Apakah semua hadis bisa dijadikan dasar hukum?
Tidak semua hadis memiliki kekuatan hukum yang sama. Hadis diklasifikasikan berdasarkan tingkat keshahihannya: shahih, hasan, dhaif, dan maudhu (palsu). Hanya hadis shahih dan hasan yang dapat dijadikan landasan hukum dalam ibadah.
3. Apa perbedaan antara hadis qudsi dan hadis nabawi?
Hadis qudsi adalah firman Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah dengan redaksi beliau sendiri, bukan redaksi Al-Qur’an. Hadis nabawi adalah ucapan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah SAW yang bersumber dari ijtihad beliau dalam bimbingan wahyu.
4. Mengapa anak perlu belajar hadis sejak kecil?
Karena hadis adalah panduan operasional dalam menjalankan ajaran Al-Qur’an. Anak yang hafal Al-Qur’an tapi tidak mengenal sunnah akan kesulitan mengamalkannya dengan benar. Keduanya adalah satu paket bekal hidup.
5. Bagaimana cara termudah memperkenalkan hadis kepada anak?
Mulailah dari hadis-hadis pendek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti hadis tentang kebersihan, adab makan, dan doa masuk rumah. Lingkungan pesantren adalah tempat terbaik karena anak belajar dari teman, ustaz, dan keseharian yang bernuansa sunnah.
Penutup
Fungsi hadis terhadap Al-Qur’an adalah fungsi yang tidak tergantikan. Ia adalah penjelasan hidup dari Nabi yang paling memahami makna wahyu Allah. Tanpa hadis, kita hanya akan memiliki teks tanpa panduan cara menjalankannya.
Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan sunnah sejak dini adalah salah satu investasi akhirat terbaik yang bisa kita lakukan untuk generasi kita.
Jika Anda ingin mendukung lahirnya generasi penghafal Qur’an yang juga memahami sunnah dengan benar, Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Syekh Ali Jaber membuka pintu untuk Anda — baik sebagai wali santri maupun sebagai donatur yang ingin mengambil bagian dalam pahala jariyah ini.
Daftarkan putra-putri Anda atau salurkan donasi Anda melalui:
- Website resmi: pendaftaran.ptqsyekhalijaber.com
- WhatsApp Admin: +62 822-4033-4849
Semoga Allah menjadikan langkah kecil kita hari ini sebagai sebab lahirnya generasi Qur’ani yang membawa cahaya bagi keluarga dan umat. Aamiin.






