
Allah SWT memerintahkan silaturahmi secara langsung dalam Al-Qur’an, dan melarang keras memutusnya. Ini bukan sekadar anjuran sosial, melainkan bagian dari ketakwaan seorang Muslim. Artikel ini mengumpulkan ayat-ayat penting seputar tema tersebut, lengkap dengan lafal Arab dan terjemahannya, agar mudah dipahami dan diamalkan.
Perintah Silaturahmi dalam Al-Qur’an
Salah satu ayat yang paling sering dirujuk ulama ketika membahas silaturahmi adalah firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 1:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, lalu dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)
Ayat ini menempatkan silaturahmi tepat di samping perintah bertakwa kepada Allah. Artinya, menjaga hubungan kerabat bukan urusan duniawi semata, ia adalah bagian dari ibadah.
Larangan Memutus Tali Kekeluargaan
Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan silaturahmi, tetapi juga memberikan peringatan tegas bagi mereka yang memutusnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Muhammad ayat 22-23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ ﴿٢٢﴾ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَٰرَهُمْ ﴿٢٣﴾
Artinya: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutus hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah, lalu Dia tuli-kan (pendengaran mereka) dan buta-kan (penglihatan mereka).” (QS. Muhammad: 22-23)
Kata “dikutuk” di sini menjadi sinyal betapa seriusnya dosa memutus silaturahmi. Ini bukan sekadar urusan antar manusia, ini menyentuh hubungan seorang hamba dengan Allah.
Silaturahmi sebagai Ciri Orang yang Berakal
Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 21, Allah menggambarkan ciri orang-orang yang memiliki pikiran jernih dan keimanan kokoh:
وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلْحِسَابِ
Artinya: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21)
Menyambung apa yang Allah perintahkan untuk disambung, menurut para mufassir, mencakup iman, ibadah, dan yang paling konkret adalah silaturahmi dengan keluarga dan kerabat.
BACA JUGA: Keutamaan Penghafal Al-Qur’an yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
Apa Kata Hadits tentang Silaturahmi?
Rasulullah SAW menegaskan kembali pentingnya silaturahmi dalam banyak sabdanya. Di antaranya:
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)
Hadits ini diriwayatkan melalui jalur yang sahih dan disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits. Silaturahmi bukan hanya tentang pahala akhirat, ia membawa keberkahan nyata dalam kehidupan dunia.
Mengajarkan Silaturahmi Sejak Dini kepada Anak
Nilai silaturahmi idealnya ditanamkan sejak anak masih kecil, bukan menunggu mereka dewasa. Anak yang terbiasa mengunjungi sanak saudara, menghormati yang lebih tua, dan peduli terhadap sesama akan tumbuh dengan akhlak yang lebih kokoh.
Salah satu lingkungan terbaik untuk membentuk karakter ini adalah pesantren atau pondok tahfidz, di mana anak tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar hidup bersama, berbagi, dan saling menjaga.
Jika Bapak/Ibu sedang mempertimbangkan tempat yang tepat untuk putra-putri usia SD hingga SMP, Pondok Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber hadir sebagai pilihan yang bisa dipertimbangkan. Program tahfidz di sini dirancang agar anak hafal Al-Qur’an sekaligus tumbuh dengan adab dan karakter islami yang kuat. Bapak/Ibu bisa mengunjungi pendaftaran.ptqsyekhalijaber.com untuk mengetahui informasi program lebih lengkap.
Silaturahmi Bukan Sekadar Berkunjung
Sebagian orang memahami silaturahmi hanya sebatas berkunjung saat Lebaran atau menghadiri hajatan. Padahal para ulama menjelaskan bahwa silaturahmi mencakup segala bentuk perhatian, doa, bantuan, dan kehadiran, baik fisik maupun batin.
Bahkan mengirimkan pesan singkat kepada kerabat yang jauh, mendoakan mereka dalam sholat, atau membantu kebutuhan mereka dari jarak jauh sudah masuk dalam cakupan menjaga tali kekeluargaan.
Yang terpenting adalah niat dan kesinambungan. Silaturahmi yang putus lalu disambung kembali tetap lebih baik daripada yang dibiarkan terputus selamanya.
FAQ Seputar Ayat Al-Qur’an tentang Silaturahmi
1. Berapa banyak ayat Al-Qur’an yang membahas silaturahmi?
Secara langsung maupun tidak langsung, tema silaturahmi muncul dalam puluhan ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan dengan perintah menjaga hubungan kekeluargaan (shilat ar-rahim) dan larangan berbuat kerusakan.
2. Apa hukum memutus silaturahmi dalam Islam?
Para ulama sepakat bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar. Hal ini didasarkan pada QS. Muhammad ayat 22-23 dan berbagai hadits sahih yang menyebut pelakunya tidak akan masuk surga hingga ia bertaubat dan memperbaikinya.
3. Apakah silaturahmi hanya untuk keluarga sedarah?
Dalam pengertian yang lebih luas, silaturahmi mencakup seluruh hubungan sosial yang baik. Namun dalam istilah syariat, shilat ar-rahim yang diwajibkan secara khusus adalah menjaga hubungan dengan kerabat yang memiliki hubungan darah (mahram).
4. Bagaimana cara mengajarkan silaturahmi kepada anak?
Mulai dari hal sederhana, seperti mengajak anak mengunjungi nenek, kakek, atau saudara, mengajarkan salam ketika bertemu, dan membiasakan mendoakan keluarga dalam ibadah sehari-hari.
5. Apakah silaturahmi benar-benar bisa memperpanjang umur dan melapangkan rezeki?
Ini adalah janji Rasulullah SAW yang tercatat dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Para ulama menjelaskan bahwa “panjang umur” bisa bermakna keberkahan waktu dan amal yang terus mengalir, sementara “lapang rezeki” mencakup kemudahan, ketenangan, dan tambahan dari arah yang tidak terduga.
Penutup
Ayat Al-Qur’an tentang silaturahmi mengajarkan bahwa menjaga hubungan antar manusia adalah bagian yang tidak terpisah dari ketakwaan kepada Allah. Ini adalah nilai yang perlu diwariskan kepada anak-anak sejak dini, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya hafal firman Allah, tetapi juga mampu menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Jika Bapak/Ibu ingin mendukung tumbuhnya generasi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia, Bapak/Ibu bisa berperan melalui sedekah atau donasi untuk program tahfidz. Setiap rupiah yang Bapak/Ibu salurkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, karena turut andil dalam mencetak anak-anak yang hidupnya diterangi Al-Qur’an.
Untuk informasi pendaftaran atau donasi, silakan kunjungi pendaftaran.ptqsyekhalijaber.com atau hubungi Admin kami melalui WhatsApp di +62 822-4033-4849. Kami siap menjawab pertanyaan Bapak/Ibu dengan sepenuh hati.






